Apa itu Telegram untuk generasi milenial sekarang sebagian besar tidak mengetahuinya, dikarenakan media komunikasi persuratan ini sudah ada sejak jaman kolonial he he he dan kian menghilang seiring dengan perkembangan teknologi digital seperti yang bisa kita nikmati manfaat dari kecanggihannya sekarang ini, sebagai gantinya surat elektronik (E-mail), Whatsapp dan lain sebagainya menjadi media untuk saling bertukar informasi secara cepat.
Namun tidak ada salahnya jika saya jelaskan sedikit agar tidak terjadi salah tafsir : Telegram pada masanya menjadi sarana komunikasi untuk mengirimkan berita yang cepat dan singkat melalui media mesin telex (mirip morse), yang terdapat pada kantor pos di setiap wilayah kota besar, kabupaten dan kecamatan. Telegram itu sendiri dikelola oleh Perumtel (Telekom), namun dalam proses pengirimannya bekerjasama dengan Perum Pos & Giro (Pos Indonesia).
Pada prakteknya ketika kita akan mengirimkan berita yang sifatnya penting, kita pergi ke kantor pos, disana nanti akan diminta oleh petugas counter untuk menuliskan dalam secarik kertas (formulir) isi berita yang akan dikirim, kemudian petugas counter memberikan kertas tersebut kepada operator mesin telex untuk dilakukan proses pengiriman dengan terlebih dahulu menyalin ulang isi beritanya.
Pengiriman berita dilakukan ke kantor pos tujuan yang terdekat dengan alamat penerima berita dan memiliki fasilitas mesin telex, selanjutnya hasil cetak berita yang berupa lembaran kertas kecil dimasukkan kedalam amplop tertutup untuk dilakukan proses pengiriman ke alamat penerima. Biaya pengiriman dihitung perkata berita yang akan dikirim, Oleh Karena itu diusahakan isi berita sesingkat mungkin, yang penting jelas dan dapat dipahami oleh si penerima berita.
Berbeda dengan surat yang dikirim melalui Pos yang proses pengirimannya memakan waktu hingga berhari-hari, sementara telegram bisa dalam waktu 1 hari sudah sampai, meskipun dari segi biaya cukup mahal, karena biaya dihitung dari berapa banyak jumlah kata yang dikirim, biasanya isi berita nya singkat dan mudah dimengerti.
Telegram dirasakan sangat efektif bagi beberapa kalangan masyarakat pada masa itu untuk berkirim berita secara singkat dan cepat dimana penggunaan pesawat telpon pun belum seperti sekarang.
Berbulan-bulan sejak menyerahkan berkas lamaran untuk menjadi staf kedutaan di Harare, Zimbabwe, tempo hari, bahkan sudah hampir lupa selain tidak terlalu berharap, hingga akhirnya saya dikejutkan oleh kabar gembira melalui pesan telegram yang saya terima melalui Pak Pos di waktu siang hari pertengahan bulan September 1986.
Isi pesan telegram yang dikirim oleh seseorang dari Deplu adalah sbb : ‘’Sdr diterima sebagai calon pegawai setempat utk KBRI Harare, agar segera menghubungi Biro Keu Deplu‘’. Setengah tidak percaya dan mengucap syukur setelah berulang-ulang saya baca pesan tersebut dan setelah yakin, lalu saya sampaikan berita gembira ini kepada seluruh keluarga, mereka merasakan suka cita dan bangga.
Belakangan baru di ketahui pengirim berita tersebut adalah Bapak Atang Ibrahim, salah seorang pejabat di Biro Keuangan Deplu (Kemlu) yang telah ditunjuk sebagai Kepala Subag Administrasi/Bendaharawan pada Kedutaan Besar RI di Harare, yang akan segera dibuka dalam waktu dekat.
Dalam pertemuan dengan beliau banyak hal yang disampaikan terkait proses penerimaan saya sebagai calon local staf dan arahan seperlunya mengenai gambaran negara tujuan dan jenis pekerjaan, selain itu diwajibkan untuk mengikuti serangkaian tes tertulis dan wawancara yang diselenggarakan oleh Direktorat Pembinaan Masyarakat Indonesia di Luar Negeri (DITBINMASLUGRI) Deplu.
Upaya saya untuk merubah nasib dan peruntungan yang lebih baik agar mendapatkan manfaat yang lebih besar dari sesuatu yang hendak kita capai tidaklah harus selalu diawali dan dimulai dengan hal besar juga.
Optimalkan kesempatan/opportunity sekecil apapun yang kita miliki untuk merubah yang kecil-kecil
menjadi sesuatu yang memberikan banyak manfaat, sehingga dari yang kecil-kecil tsb akan berubah menjadi sesuatu yang besar yang banyak memberikan banyak keuntungan buat kita
Pikirkan dan cari caranya bagaimana bisa memberikan added value dari kesempatan yang kita dapatkan/punyai. Kalo kita bisa mendapatkan keuntungan pertama, tidak ada salahnya kita manfaatkan keuntungan yang kita dapat tadi untuk mendapatkan keuntungan yang kedua, ketiga dan seterusnya.
‘’ Isi hidupmu dengan pengalaman. Bukan Benda. Memiliki cerita untuk diceritakan, bukan hal untuk ditampilkan ‘’

Komentar
Posting Komentar