Langsung ke konten utama

Inspirasi Jawa untuk Kain Tribal (Batik) Afrika


Saat mengunjungi  African Bazaar yang digelar di pelataran parkir gedung Uni Afrika (African Union) sabtu tanggal 30 Maret 2019 lalu,  peserta bazaar diikuti oleh beberapa Negara afrika, ketika saya berjalan melihat stand-stand peserta bazaar, di salah satu stand dari Negara afrika, kalau tidak salah stand dari Negara Tanzania,  seseorang menyapa saya dengan sebuah sapaan yang seharusnya saya dengar di Indonesia, “Sir, do you want Batik?”  Agak aneh rasanya jika seorang Indonesia seperti saya ditawari batik di Afrika sana. Saya pun membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. “Do you know batik originally from Indonesia?”
“I don’t know,” jawab si penjaga stand dengan santai. “I thought batik is from Africa.” dengan logat Inggris khas Afrika yang sering saya dengar saat dulu tinggal di Zimbabwe. 

Seperti orang Indonesia yang “selalu tersinggung” bila ada negara lain yang mengklaim batik, saya pun sedikit agak ragu mendengar jawaban si penjaga stand. Saya lalu menjelaskan asal-usul batik dan sejarahnya yang mungkin sebagian besar salah. Maklumlah, meskipun terlahir sebagai orang Jawa, saya tak tahu soal seluk-beluk batik secara detail. Si penjaga stand  hanya manggut-manggut mendengar penjelasan saya dan kemudian bertanya dengan nada kesal, “Do you want to buy my batik or not?”  Si penjaga stand pasti bosan  saya ceramahi. Dia pun hanya bisa tersenyum, ketika saya jawab, “No, thanks.”

Setelah debat kusir dengan penjaga stand  di African Bazzar, saya mulai mempelajari asal-usul batik yang diklaim berasal dari Indonesia.

Kata batik sendiri memang berasal dari bahasa Jawa yaitu amba yang artinya menulis and titik.  Secara harfiah, batik artinya menulis titik. Soal seni membatik sendiri yaitu melukis dengan teknik pewarnaan yang menggunakan lilin tidak hanya dikenal di Indonesia, tetapi juga sudah sejak lama dikenal di Mesir, India, Nigeria, Cina Jepang, dan lain-lain. Dan, teknik membatik ini memang sudah dikenal sejak lama di negara-negara tersebut bahkan dari sejak sebelum Masehi. Perbedaan teknik membatik Indonesia (khususnya Jawa) dengan negara-negara lain mungkin terletak di alat melukisnya dimana batik Indonesia aslinya dilukis dengan menggunakan canting. Canting sebagai alat lukis batik tidak dikenal di negara-negara lain kecuali di Malaysia yang mempunyai kedekatan sosial budaya dengan Indonesia.

Kain Tribal Afrika berkembang dari kain batik yang dicetak di Eropa untuk dijual di Jawa. Yinka Shonibare adalah seniman terkenal asal Nigeria yang sering berkreasi dengan kain Tribal Afrika, “kain Tribal Afrika tidak seotentik Afrika seperti yang dikira orang, kain ini terbukti memiliki latar belakang lintas budaya ” lanjutnya lagi.

Kisah bermula dari usaha orang Belanda dan Inggris untuk meniru Batik Jawa agar bisa diproduksi dalam jumlah lebih banyak, namun dengan biaya yang lebih murah dan waktu yang lebih cepat. Kebutuhan ini muncul untuk keperluan perdagangan yang tidak dapat dipenuhi oleh usaha batik tradisional Jawa yang membuat Batik menggunakan tangan sehingga memerlukan waktu lama dengan biaya mahal dan hanya menghasilkan sedikit kain Batik.
Inggris, Belanda dan Belgia adalah tiga pemain besar dalam industri Batik Cetak antara tahun 1814 sampai 1844 menurut Maria Wronska yang melalui Universitas James Cook menerbitkan penelitian mengenai sejarah produksi batik tiruan di Eropa.
Namun pasar terbesar Batik Cetak Eropa ini ternyata bukan Jawa. Batik cetak buatan Eropa kurang diminati di Jawa karena hasil cetaknya tidak sempurna, ada motif yang salah dan jarak cetak yang tidak rapat menghasilkan bagian kosong pada kain.
Di saat yang sama, Belanda banyak merekrut tentara dari wilayah Afrika Barat untuk ditempatkan di Jawa, disini para tentara Afrika untuk pertama kali melihat batik dan tertarik kepada kain ini. Banyak diantaranya yang kembali ke Afrika dengan membawa kain Batik sebagai buah tangan.
Belanda akhirnya menjual batik tiruan yang tidak diterima di Jawa itu ke Afrika Barat. Disana batik cetak buatan Eropa itu dikembangkan dengan motif-motif baru yang mewakili budaya Afrika sampai akhirnya membentuk apa yang kini dikenal sebagai Kain Tribal Afrika.
Sekali lagi budaya Nusantara memicu dan memberi inspirasi bagi kebudayaan lain di dunia.
Dari kisah sejarah itulah maka  “batik” bisa sampai ke Afrika, Memang kedengarannya sedikit aneh kalau orang Afrika memilih kata batik dan tidak kata lain untuk karya seni membatik mereka.  Mereka malah mengklaim bahwa seni batik dan kata batik itu berasal dari Afrika dan merupakan bagian dari budaya mereka.
Mungkin tak banyak orang Indonesia yang tahu soal batik Afrika, kain Tribal Afrika sangat populer di dunia karena warnanya yang cerah dan motifnya yang unik dan khas Afrika, kain-kain ini dipakai secara luas di negara-negara Afrika Barat seperti di Ghana, Togo, dan Ivory Coast. Namun, ternyata kain Tribal Afrika sebenarnya adalah batik dari Jawa, Indonesia.

Bayangkan kalau yang mengklaim batik tadi orang Malaysia, pasti banyak orang Indonesia yang langsung memaki-maki. Sayangnya orang Indonesia sulit memprotes orang Afrika yang mengklaim batik sebagai bagian dari kebudayaan mereka, mungkin karena letak geografisnya yang sangat berjauhan.

Selain itu batik Indonesia lazimnya digunakan sebagai pakaian, sedangkan batik Afrika selain digunakan untuk pakaian, juga digunakan sebagai karya lukisan, taplak, dan sebagainya. Warna-warna yang digunakan dalam batik Afrika lebih ekstrim daripada batik Indonesia yang mengikuti pakem dan pola. Batik Afrika benar-benar karya imajinasi dari sang pelukis batik sendiri. 
Sayangnya, banyak pelukis batik Afrika terutama yang menjual karya batik mereka di jalanan hanya mencontoh dari pola-pola lukisan batik yang sudah ada. Saya menemukan dua lukisan batik yang sama di beberapa negara Afrika yang berbeda.
Kalau bicara soal kualitas bahan, batik Indonesia memang jauh lebih baik dibandingkan batik Afrika. Di Afrika, bahan pakaian batik yang digunakan lebih kaku dan kasar dibandingkan bahan yang digunakan di Indonesia.

Bicara soal batik di Afrika, mengingatkan saya kepada Nelson Mandela, mantan Presiden Afrika Selatan yang selalu mengenakan  batik Indonesia pada setiap kesempatan dalam berbagai acara kenegaraan. 

Dari pengalaman pribadi dan berbagai sumber

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KATA PENGANTAR

              Ide untuk menulis  blog  ini datang ketika suatu hari aku melihat-lihat kembali album-album foto keluarga waktu kami berdomisili di Harare, Zimbabwe. Ketika itu anak-anak masih kecili-kecil, sekarang ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka pun banyak bertanya pada saat kami membenahi foto-foto ini, aku langsung sadar bahwa foto ini banyak memiliki kenangan dan mengisahkan pengalaman dan perjalanan hidup aku. Negeri adalah lokasi yang terasa oleh semua panca indera kita. Saat kaki mulai menapak di suatu tempat, maka semua indera kita merasakan apapun yang bisa dilumat, diserap, dicerna dan dinikmati. Semua dapat direkam oleh otak, kamera dijital, perekam video, untuk kemudian dikeluarkan kelak dalam sebuah cerita perjalanan. Mulut dapat berbicara tentang segala yang telah dirasa, tangan dapat menuliskan semua keasyikan pengalaman yang ada.  aku menjadi terinspirasi untuk menulis Otobiografi (pengalamanku ini) ...

CUMA LULUS SMA MAU JADI APA ??

Tidak terasa waktu ini berjalan sangat cepat rasanya, masih teringat dulu waktu masih balita, kedua orang tua sering mengajak saya jalan2 ke taman remaja (sebelahnya Gedung TVRI) untuk mencari hiburan di sana supaya saya bisa bersenang-senang, trus waktu beranjak, dari TK, SD, SMP, SMA amat disayangkan, karena kondisi perekonomian orang tua, saya tidak bisa menikmati bangku perkuliahan, dan sekarang sudah lebih dari 38 tahun saya meninggalkan bangku SMA itu dengan masa-masa yang indah. Perjalanan hidup itu banyak sekali lika likunya dan dilalui kadang suka tapi juga tidak sedikit merasakan duka pahitnya hidup ini. Tapi bagaimanapun itu puji syukur kehadirat Illa hi Robbi semua bisa dilalui dengan sebagaimana mestinya. Inilah fase pertama dalam kehidupan setelah dewasa, kemana kaki ini akan melangkah kita sendiri yang akan menentukan sebagai pilihan hidup kedepannya. Setiap orang mempunyai keinginan atau cita-cita, sebagai bekal hidup kelak dikemudian hari, Menyandang status penganggura...