Langsung ke konten utama

CUMA LULUS SMA MAU JADI APA ??


Tidak terasa waktu ini berjalan sangat cepat rasanya, masih teringat dulu waktu masih balita, kedua orang tua sering mengajak saya jalan2 ke taman remaja (sebelahnya Gedung TVRI) untuk mencari hiburan di sana supaya saya bisa bersenang-senang, trus waktu beranjak, dari TK, SD, SMP, SMA amat disayangkan, karena kondisi perekonomian orang tua, saya tidak bisa menikmati bangku perkuliahan, dan sekarang sudah lebih dari 38 tahun saya meninggalkan bangku SMA itu dengan masa-masa yang indah. Perjalanan hidup itu banyak sekali lika likunya dan dilalui kadang suka tapi juga tidak sedikit merasakan duka pahitnya hidup ini. Tapi bagaimanapun itu puji syukur kehadirat Illa hi Robbi semua bisa dilalui dengan sebagaimana mestinya.

Inilah fase pertama dalam kehidupan setelah dewasa, kemana kaki ini akan melangkah kita sendiri yang akan menentukan sebagai pilihan hidup kedepannya. Setiap orang mempunyai keinginan atau cita-cita, sebagai bekal hidup kelak dikemudian hari,

Menyandang status pengangguran membuat saya tidak putus asa untuk tetap menjalani keseharian dengan penuh semangat dan berusaha mencari lowongan pekerjaan baik melalui surat kabar maupun melalui kantor wilayah Depnaker (Kemenaker) untuk dapat menjadi Pegawai instansi pemerintah. 

Pada masa itu jenjang pendidikan SMA masih banyak dibutuhkan baik oleh perusahaan swasta, BUMN dan Instansi pemerintah. Meskipun berpuluh lamaran telah dilayangkan, namun dewi fortuna belum berpihak kepada saya, sehingga tidak satu pun yang lolos seleksi, ini karena saya-nya yang kurang cerdas dalam menjawab soal-soal ujian, atau ada unsur lain yang pada orde itu memang sedang marak…. Teman teman tentunya paham dengan apa yang gue maksud. He ….. he ….. he. 

’ Pengalaman selalu lebih penting dibanding level pendidikan dan nilai akademis ’’  – Tere Liye


 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inspirasi Jawa untuk Kain Tribal (Batik) Afrika

Saat mengunjungi   African Bazaar yang digelar di pelataran parkir gedung Uni Afrika (African Union) sabtu tanggal 30 Maret 2019 lalu,  peserta bazaar diikuti oleh beberapa Negara afrika, ketika saya berjalan melihat stand-stand peserta bazaar, di salah satu stand dari Negara afrika, kalau tidak salah stand dari Negara Tanzania,   seseorang menyapa saya dengan sebuah sapaan yang seharusnya saya dengar di Indonesia, “Sir, do you want Batik?”   Agak aneh rasanya jika seorang Indonesia seperti saya ditawari batik di Afrika sana. Saya pun membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. “Do you know batik originally from Indonesia?” “I don’t know,” jawab si penjaga stand dengan santai. “I thought batik is from Africa.” dengan logat Inggris khas Afrika yang sering saya dengar saat dulu tinggal di Zimbabwe.  Seperti orang Indonesia yang “selalu tersinggung” bila ada negara lain yang mengklaim batik, saya pun sedikit agak ragu mendengar jawaban si penjaga s...

KATA PENGANTAR

              Ide untuk menulis  blog  ini datang ketika suatu hari aku melihat-lihat kembali album-album foto keluarga waktu kami berdomisili di Harare, Zimbabwe. Ketika itu anak-anak masih kecili-kecil, sekarang ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka pun banyak bertanya pada saat kami membenahi foto-foto ini, aku langsung sadar bahwa foto ini banyak memiliki kenangan dan mengisahkan pengalaman dan perjalanan hidup aku. Negeri adalah lokasi yang terasa oleh semua panca indera kita. Saat kaki mulai menapak di suatu tempat, maka semua indera kita merasakan apapun yang bisa dilumat, diserap, dicerna dan dinikmati. Semua dapat direkam oleh otak, kamera dijital, perekam video, untuk kemudian dikeluarkan kelak dalam sebuah cerita perjalanan. Mulut dapat berbicara tentang segala yang telah dirasa, tangan dapat menuliskan semua keasyikan pengalaman yang ada.  aku menjadi terinspirasi untuk menulis Otobiografi (pengalamanku ini) ...