Langsung ke konten utama

PION BIDAK LOCAL STAFF BUDAK


 Jangan gagal fokus yak….. dengan cover foto diatas yang diplomat itu apartemennya kalo saya mah Cuma Local Staff doang alias pion he he he.... tapi nggak kalah gaya dan keren sama si didi he he he......... 

            

Tapi jangan salah dan sangat menarik, filosofi belajar dari mengamati bagaimana pion ditakdirkan untuk menjadi korban pertama dalam setiap permainan Bidak Catur, demikian juga dengan Local Staf ditakdirkan sebagai kasta terendah dalam sebuah kerajaan kecil. Pion, dianggap sebagai prajurit garda terdepan yang berjuang sebagai benteng pertama yang harus dikorbankan untuk melindungi prajurit atasannya, utamanya adalah raja itu sendiri. 

 

Tapi kebalikannya kalo lagi pose untuk foto bersama posisi pion jadi dibelakang dan raja dan yang lainnya didepan he he he.

            

Pion dapat juga diumpamakan sebagai anak kecil yang sekolah untuk mendapatkan predikat tertinggi hingga dapat bermetamorfosis menjadi bidak unggulan setingkat patih, menteri, dst. Lalu begitukah sebatas kemampuan pion??

 

Baiknya kita simak sisi lain dari pion yang mungkin terabaikan selama ini.

 

Maju terus,

 

Tidak pernah ada sejarahnya pion mundur ke belakang, ke tempat semula untuk menghindari sergapan lawan atau untuk mengatur strategi dalam pertandingan. Apabila pion telah dilepas maju satu bidak ke depan, maka ia tetap akan bertahan disana atau maju terus, tidak bisa lagi mundur. Ini mengindikasikan bahwa kehidupan ini perlu disikapi untuk terus melihat ke depan karena kehidupan tidak mungkin akan membalik ke masa lalu, masa yang telah terlewati seperti bidak yang telah ditinggalkan.

 

Si mungil yang gigih,

 

Jika dilihat dari ukuran, maka pion adalah tokoh paling mungil yang ada dalam bidak catur. Namun tunggu dulu, bukan berarti mungil itu tak berdaya. Ia, pion itu adalah bidak yang gigih. Ia akan bertahan meskipun harus bertempur menghadapi pion lawan, menteri lawan, atau mungkin patih yang menghadapinya. Dengan bergandengan tangan dengan pion lain, dengan memposisikan dalam alur diagonal dengan pion lain, maka pion adalah pihak yang gigih, yang tak mudah rapuh, tak mudah patah ibarat mati satu tumbuh seribu. Saling menjaga sesama, saling mendukung, dan menjadi garda terdepan perjuangan dalam hal ini perjuangan diplomasi.

 

Rela berkorban

            

Lagi, pion adalah bidak yang diposisikan sebagai korban pertama untuk melindungi prajurit di belakangnya. Ini seakan membuatnya tak berguna. Padahal pion adalah bidak yang rela berkorban untuk strategi kemenangan, kesuksesan. Coba lihat, bagaimana sering pion dijadikan umpan gratis untuk memancing lawan membuka celah agar pertahanannya goyah. Namun, pion tetap berada pada garisnya untuk berkorban terutama jika raja benar-banar terdesak.

            

Setia,

 

Pion adalah tipe yang setia pada filosofi permainan. Ia tak akan mundur ketika telah melangkah. Ia menerima ketika dikorbankan untuk sebuah misi yang mulia –kejayaan. Pion tetap rendah hati dan tak menolak untuk setiap tugas yang diberikan karena kesetiaan kepada pihak tertinggi dalam permainan menyadarkannya untuk patuh dan taat pada aturan yang diberikan.

            

Mampu bermetamorfosis,

            

Pion adalah satu-satunya bidak catur yang mampu bermetamorfosis menjadi sosok lain yang lebih unggul derajatnya dalam permainan. Ketika ia melangkah, setapak demi setapak tetapi tanpa pamrih. Gigih melaju hingga melewati rintangan pihak musuh, maka pada akhirnya ia sampai pada garis terakhir yang ada di pihak lawan. Jika sampai pada titik nadir itu, pion akan bermetamorfosis menjadi sosok lain yang diinginkan. Ia dapat menjadi kuda, menteri, benteng, atau bahkan menjadi tokoh patih. Ini berkat gigihnya melangkah tanpa menghiraukan siapa dirinya yang kecil, yang terabaikan, yang lemah.

 

Perlu diketahui, ada beberapa  pion  di percaturan negara kita yang telah mampu bermetamorfosis yaitu Bapak Muhammad Maftuh Basyuni (Mantan Kepala Biro Protokol Istana dan Menteri Agama) pernah menjadi Sekretaris Pribadi Konsul Jenderal RI di Jeddah (1976-1979) dan Bapak Dino Pati Djalal (Mantan Staf Khusus Presiden RI Urusan Luar Negeri dan Wakil Menteri Luar Negeri) pernah menjadi Local Staf bidang penerangan di Konsulat Jenderal RI di Vancouver, Canada.

            

Lalu, masihkah kita berfikir tentang diri kita sendiri yang kecil, yang tak terlihat, yang lemah, atau apapun yang menganggap negatif pada citra diri kita?? Jika iya, alangkah lebih baik jika kita kembali menyimak ulang tentang filosofi pion di atas. #selamatbermetamorfosis tetap memiliki semangat walau hanya budak tapi bermental seperti bidak. ***(h@rs).

 

 

 

 

 

            

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inspirasi Jawa untuk Kain Tribal (Batik) Afrika

Saat mengunjungi   African Bazaar yang digelar di pelataran parkir gedung Uni Afrika (African Union) sabtu tanggal 30 Maret 2019 lalu,  peserta bazaar diikuti oleh beberapa Negara afrika, ketika saya berjalan melihat stand-stand peserta bazaar, di salah satu stand dari Negara afrika, kalau tidak salah stand dari Negara Tanzania,   seseorang menyapa saya dengan sebuah sapaan yang seharusnya saya dengar di Indonesia, “Sir, do you want Batik?”   Agak aneh rasanya jika seorang Indonesia seperti saya ditawari batik di Afrika sana. Saya pun membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. “Do you know batik originally from Indonesia?” “I don’t know,” jawab si penjaga stand dengan santai. “I thought batik is from Africa.” dengan logat Inggris khas Afrika yang sering saya dengar saat dulu tinggal di Zimbabwe.  Seperti orang Indonesia yang “selalu tersinggung” bila ada negara lain yang mengklaim batik, saya pun sedikit agak ragu mendengar jawaban si penjaga s...

KATA PENGANTAR

              Ide untuk menulis  blog  ini datang ketika suatu hari aku melihat-lihat kembali album-album foto keluarga waktu kami berdomisili di Harare, Zimbabwe. Ketika itu anak-anak masih kecili-kecil, sekarang ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka pun banyak bertanya pada saat kami membenahi foto-foto ini, aku langsung sadar bahwa foto ini banyak memiliki kenangan dan mengisahkan pengalaman dan perjalanan hidup aku. Negeri adalah lokasi yang terasa oleh semua panca indera kita. Saat kaki mulai menapak di suatu tempat, maka semua indera kita merasakan apapun yang bisa dilumat, diserap, dicerna dan dinikmati. Semua dapat direkam oleh otak, kamera dijital, perekam video, untuk kemudian dikeluarkan kelak dalam sebuah cerita perjalanan. Mulut dapat berbicara tentang segala yang telah dirasa, tangan dapat menuliskan semua keasyikan pengalaman yang ada.  aku menjadi terinspirasi untuk menulis Otobiografi (pengalamanku ini) ...

CUMA LULUS SMA MAU JADI APA ??

Tidak terasa waktu ini berjalan sangat cepat rasanya, masih teringat dulu waktu masih balita, kedua orang tua sering mengajak saya jalan2 ke taman remaja (sebelahnya Gedung TVRI) untuk mencari hiburan di sana supaya saya bisa bersenang-senang, trus waktu beranjak, dari TK, SD, SMP, SMA amat disayangkan, karena kondisi perekonomian orang tua, saya tidak bisa menikmati bangku perkuliahan, dan sekarang sudah lebih dari 38 tahun saya meninggalkan bangku SMA itu dengan masa-masa yang indah. Perjalanan hidup itu banyak sekali lika likunya dan dilalui kadang suka tapi juga tidak sedikit merasakan duka pahitnya hidup ini. Tapi bagaimanapun itu puji syukur kehadirat Illa hi Robbi semua bisa dilalui dengan sebagaimana mestinya. Inilah fase pertama dalam kehidupan setelah dewasa, kemana kaki ini akan melangkah kita sendiri yang akan menentukan sebagai pilihan hidup kedepannya. Setiap orang mempunyai keinginan atau cita-cita, sebagai bekal hidup kelak dikemudian hari, Menyandang status penganggura...