Langsung ke konten utama

Kran Air dari “BUMI INDONESIA”

Upaya Pemerintah  Indonesia dalam meningkatkan Hubungan luar negeri yang dilandasi politik bebas aktif merupakan salah satu perwujudan dari tujuan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut serta melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Indonesia perlu meningkatkan hubungan dengan negara lain dalam berbagai bidang, salah satunya adalah hubungan bilateral Indonesia dengan Ethiopia.
Indonesia dan Ethiopia mempunyai sejarah hubungan bilateral yang panjang mulai dirintis sejak tahun 1955, ditandai dengan keikutsertaan Ethiopia pada saat penyelenggaraan Konferensi Asia Afrika yang pertama di Bandung dan dilanjutkan dengan KTT Gerakan Non Blok pada tahun 1961.
Hubunga bilateral kedua negara mulai dilaksanakan secara formal dengan pembukaan Kedubes RI di Addis Ababa tahun 1964. yang kemudian disusul dengan berdirinya Gedung Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) pada tahun 1966 di Addis Ababa.
Sedangkan Ethiopia menunjuk Kedubesnya di Tokyo sebagai Perwakilan akreditasi Indonesia sejak tahun 1978. Kemudian pada tahun 2013 di akreditasikan oleh Kedubesnya yang berada di Seoul. Sejak tahun 2002, Ethiopia telah berkeinginan membuka kedubesnya di Jakarta, namun  baru dapat terealisasi pada tahun ini.
Bisa dibayangkan betapa sulitnya merintis, mendirikan dan membuka perwakilan baru di luar negeri, apalagi pada masa itu. Masalah perumahan merupakan masalah awal yang ditemui perwakilan kita. Pada waktu itu perkantoran dan perumahan anggota staf Kedutaan menjadi satu dengan status menyewa. Setelah gedung baru di Mekanissa Road (Egypt Street) dapat ditempati, yang terdiri dari dua tingkat dan pada tingkat atas terdiri 15 ruangan digunakan untuk kantor Keppri, Kabidpol, Kabidpen, Kaunitkom, KBTU, Sekpri, Resepsionis, staf lainnya, ruang rapat dan mushollah, sementara lantai bawah diperuntukkan sebagai garasi mobil dan ruang perpustakaan.
Pada tanggal 6 Mei nanti genap 50 tahun . sejak peletakan batu pertama pembangunan gedung KBRI Addis Ababa, sesuai tulisan pada prasasti yang terletak di halaman depan gedung kantor.
Gedung ini menjadi saksi bisu perkembangan hubungan kerja sama kedua negara, khususnya di bidang politik yang mengalami pasang surut. Setelah mengalami hubungan baik pada masa Pemerintahan Kaisar Hailesellasie, hubungan RI-Ethiopia mengalami kemunduran pada masa pemerintahan Kol.  Mangestu (Derg) akibat sikap vokal Ethiopia yang anti RI pada masalah Timtim di forum internasional seperti PBB dan GNB. Namun sejak pemerintahan baru Ethiopia yang demokratis dan multipartai di bawah pimpinan PM Meles Zenewi, dan ketika Indonesia sebagai Ketua GNB (mulai tahun 1990-an), hubungan RI-Ethiopia mengalami perkembangan Positif Hingga Saat ini.
“Bumi Indonesia” adalah julukan yang diberikan oleh Mayjen (Purn) Suadi, Duta Besar RI Pertama untuk lahan yang merupakan asset Pemerintah RI  yang terletak di Mekannisa Road (sekarang berganti nama : Egypt street), Addis Ababa, Ethiopia. Diatas lahan seluas 10.000m2 inilah berdiri 2 bangunan masing-masing diperuntukkan untuk Kantor Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dan kediaman resmi Duta Besar (Wisma Duta) yang pembangunannya dimulai pada tahun 1966, di area lahan ini terdapat juga  aula, guest house dan beberapa fasilitas olah raga. Bangunan-bangunan ini merupakan wujud konkrit dari  keberadaan Perwakilan Indonesia di Ethiopia. Peresmian gedung KBRI Addis Ababa pada tahun 1968 disambut baik oleh Ethiopia, bahkan Kaisar Haile Selassie menyempatkan untuk hadir pada acara peresmian tersebut.
Ada sebuah cerita menarik tentang Kaisar Haille Sellasie dari Bapak Soemartoyo Suadi, beliau adalah keponakan dari  Bapak Suadi,  sebagai local staff senior di KBRI Addis Ababa, dari beliaulah saya mendapatkan banyak cerita, beliau berharap ada orang yang bisa merangkum kisahnya ini dalam sebuah tulisan, namun sayang sekali sebelum keinginannya terealisasi beliau telah berpulang ke rahmatullah akibat kecelakaan lalu lintas bulan November tahun 2012.
Dari beberapa kisahnya yang masih saya ingat yaitu tentang kran air,  semasa sang kaisar berkuasa, di sebuah resepsi diplomatik, sang kaisar tertegun sejenak ketika menyalami para diplomat yang datang. Kali ini tak ada basa-basi. Sang kaisar yang bertubuh pendek itu bercengkrama sejenak, ketika dia menyalami tamu diplomat dari Indonesia.
Dari mulutnya yang dilingkari kumis dan brewok itu, sang kaisar bermata tajam menatap tamunya dari Indonesia. Dia menyampaikan perasaan hatinya yang dalam tentang kran air. Sebuah ungkapan terima kasihnya tak terhingga kepada Indonesia. Bukan karena bantuan finansial atau proyek kerjasama, karena memang tidak ada muatan sebesar ini dalam hubungan kedua negara saat itu. Tapi karena kran air!
Sang kaisar terkesan dengan kedutaan besar Indonesia di ibukota negaranya, yang membiarkan kran air milik kedutaan mengucurkan air. Air itulah yang dimanfaatkan banyak oleh penduduk yang membutuhkan saat kesulitan. Tindakan itu terdengar sampai ke telinga sang kaisar. Baginya pantas untuk mengucapkan terima kasih untuk sebuah kran air kepada Indonesia.
Rasa terima kasih sang kaisar memang bukan basa-basi lagi. Sebelumnya dia sudah lama terkesima dengan retorika Indonesia dimasa Soekarno, yang anti penjajahan dan membela rakyat negeri tertindas di setiap sudut dunia, termasuk benua hitam tempat negaranya dihormati. Dia tak iri dengan Soekarno karena kota Bandung menjadi ‘ibukota Afrika (juga Asia)’, tempat berkumpulnya pemimpin Afrika (juga Asia) pertama kalinya dalam sejarah di tahun 1955. Justru bukan seharusnya di ibukota negerinya!  Dia memang tak datang ke Bandung waktu itu, kehadirannya diwakilkan oleh Ato Yilma Deressa (Duta Besar Ethiopia untuk AS).
Kiranya sekarang saat yang tepat untuk meremajakan kembali hubungan bilateral Indonesia-Ethiopia yang telah dimulai sejak 61 tahun yang lalu. Jika di masa lalu KBRI Addis Ababa hanya mengutamakan sektor politik, maka sekarang saatnya untuk mengembangkan multi track diplomacy dengan memanfaatkan semua peluang yang ada yaitu government to government, business to business  people to people dan juga  university to university.
Tulisan ini saya buat untuk memperingati “Hari Bumi”  (Earth Day) yang jatuh pada hari ini  dan  juga untuk memperingati berdirinya komplek bangunan yang berada di “ Bumi Indonesia “ yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada tanggal 6 Mei 1966.
Semoga Gedung KBRI Addis Ababa tetap berdiri kokoh di atas “bumi indonesia “  Ethiopia, sebagai sarana mempererat hubungan bilateral RI-Ethiopia. serta memiliki manfaat untuk masyarakat kedua Negara. Selamat Hari Bumi……nggak nyambung yak ceritanya ? he he he


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inspirasi Jawa untuk Kain Tribal (Batik) Afrika

Saat mengunjungi   African Bazaar yang digelar di pelataran parkir gedung Uni Afrika (African Union) sabtu tanggal 30 Maret 2019 lalu,  peserta bazaar diikuti oleh beberapa Negara afrika, ketika saya berjalan melihat stand-stand peserta bazaar, di salah satu stand dari Negara afrika, kalau tidak salah stand dari Negara Tanzania,   seseorang menyapa saya dengan sebuah sapaan yang seharusnya saya dengar di Indonesia, “Sir, do you want Batik?”   Agak aneh rasanya jika seorang Indonesia seperti saya ditawari batik di Afrika sana. Saya pun membalas pertanyaannya dengan sebuah pertanyaan. “Do you know batik originally from Indonesia?” “I don’t know,” jawab si penjaga stand dengan santai. “I thought batik is from Africa.” dengan logat Inggris khas Afrika yang sering saya dengar saat dulu tinggal di Zimbabwe.  Seperti orang Indonesia yang “selalu tersinggung” bila ada negara lain yang mengklaim batik, saya pun sedikit agak ragu mendengar jawaban si penjaga s...

KATA PENGANTAR

              Ide untuk menulis  blog  ini datang ketika suatu hari aku melihat-lihat kembali album-album foto keluarga waktu kami berdomisili di Harare, Zimbabwe. Ketika itu anak-anak masih kecili-kecil, sekarang ketika mereka sudah beranjak dewasa, mereka pun banyak bertanya pada saat kami membenahi foto-foto ini, aku langsung sadar bahwa foto ini banyak memiliki kenangan dan mengisahkan pengalaman dan perjalanan hidup aku. Negeri adalah lokasi yang terasa oleh semua panca indera kita. Saat kaki mulai menapak di suatu tempat, maka semua indera kita merasakan apapun yang bisa dilumat, diserap, dicerna dan dinikmati. Semua dapat direkam oleh otak, kamera dijital, perekam video, untuk kemudian dikeluarkan kelak dalam sebuah cerita perjalanan. Mulut dapat berbicara tentang segala yang telah dirasa, tangan dapat menuliskan semua keasyikan pengalaman yang ada.  aku menjadi terinspirasi untuk menulis Otobiografi (pengalamanku ini) ...

CUMA LULUS SMA MAU JADI APA ??

Tidak terasa waktu ini berjalan sangat cepat rasanya, masih teringat dulu waktu masih balita, kedua orang tua sering mengajak saya jalan2 ke taman remaja (sebelahnya Gedung TVRI) untuk mencari hiburan di sana supaya saya bisa bersenang-senang, trus waktu beranjak, dari TK, SD, SMP, SMA amat disayangkan, karena kondisi perekonomian orang tua, saya tidak bisa menikmati bangku perkuliahan, dan sekarang sudah lebih dari 38 tahun saya meninggalkan bangku SMA itu dengan masa-masa yang indah. Perjalanan hidup itu banyak sekali lika likunya dan dilalui kadang suka tapi juga tidak sedikit merasakan duka pahitnya hidup ini. Tapi bagaimanapun itu puji syukur kehadirat Illa hi Robbi semua bisa dilalui dengan sebagaimana mestinya. Inilah fase pertama dalam kehidupan setelah dewasa, kemana kaki ini akan melangkah kita sendiri yang akan menentukan sebagai pilihan hidup kedepannya. Setiap orang mempunyai keinginan atau cita-cita, sebagai bekal hidup kelak dikemudian hari, Menyandang status penganggura...